| Terduga pelaku KDRT saat dalam pengamanan polisi usai aksi brutal pembakaran rumah, mengaku sempat mengonsumsi sabu bersama oknum aparat. |
MERANGIN – Teror kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) berubah menjadi bencana mengerikan di Kecamatan Lembah Masurai, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Seorang pria nekat membakar rumahnya sendiri setelah konflik rumah tangga memuncak, memicu kepanikan warga dan membuka tabir dugaan gelap keterlibatan oknum aparat dalam peredaran narkotika.
Terduga pelaku, Doni, warga Desa Pesisir, diduga kehilangan kendali hingga melakukan aksi brutal yang nyaris merenggut keselamatan lingkungan sekitar. Kobaran api yang melahap rumahnya sendiri sontak membuat warga berhamburan menyelamatkan diri, khawatir api merembet ke permukiman lain.
Usai kejadian, Doni langsung melarikan diri, berpindah-pindah lokasi bak buronan. Ia sempat terdeteksi berada di Desa Melungkung, Kecamatan Margo Tabir, sebelum akhirnya bergerak ke kawasan Sungai Tebal untuk menghilangkan jejak.
Namun pelariannya tak berlangsung lama. Tim gabungan dari Polsek Lembah Masurai bersama aparat reserse berhasil membekuk pelaku di Sungai Tebal. Penangkapan berlangsung tanpa perlawanan, meski sebelumnya Doni diduga berupaya keras menghapus jejak pelariannya.
Dalam pemeriksaan awal, Doni mengakui seluruh perbuatannya, mulai dari aksi KDRT hingga membakar rumah sendiri. Namun pengakuannya justru menyeret perkara ini ke arah yang jauh lebih mengkhawatirkan.
Doni mengungkap bahwa sebelum kejadian, ia mengonsumsi narkotika jenis sabu-sabu. Lebih mengejutkan lagi, ia mengklaim menggunakan barang haram tersebut bersama seorang oknum anggota kepolisian berinisial Hendro yang bertugas di Polsek Jangkat.
Tak berhenti di situ, Doni juga menyebut sabu-sabu yang dikonsumsinya diduga berasal dari oknum tersebut. Bahkan, ia menuding adanya peran sebagai pengedar dalam lingkaran gelap peredaran narkotika di wilayah itu.
Pengakuan ini menjadi sinyal bahaya yang mengarah pada dugaan keterlibatan aparat dalam jaringan narkoba, sebuah isu sensitif yang berpotensi mengguncang kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum.
Hingga kini, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait tudingan tersebut. Namun sumber internal menyebutkan bahwa informasi itu tengah didalami secara serius untuk menguji kebenaran pengakuan pelaku.
Kasus ini tak sekadar soal KDRT dan pembakaran. Ini adalah alarm keras tentang kemungkinan adanya praktik menyimpang di balik seragam penegak hukum. Publik kini menanti, apakah aparat berani membongkar hingga ke akar, atau justru membiarkan kebenaran terkubur di balik abu kebakaran.
(Red.)